Y menuturkan, pada Selasa pagi, Firman masih dapat berkomunikasi dengan keluarga dan menggunakan telepon genggam. 

Kondisi tersebut membuat keluarga tidak menyangka bahwa pasien akan meninggal beberapa jam kemudian.

“Melihat kondisi anaknya semakin membaik, ayah pasien pamit untuk pulang menghadiri undangan. Pasien bilang ke ayahnya, ‘Iya hati-hati, Pak’. Pagi itu pasien masih main HP,” ujarnya.

Menurut penuturan Y, kondisi Firman mulai memburuk setelah seorang perawat memberikan suntikan sekitar pukul 05.00 WIB.

Y mengklaim, pasien kemudian mengalami muntah-muntah. Pada saat bersamaan, infus yang terpasang disebut mengalami kemacetan hingga akhirnya dimatikan oleh perawat.

“Setelah disuntik, pasien muntah-muntah. Lalu perawat itu bilang agar diselesaikan dulu muntahnya. Infus saat itu macet, akhirnya dimatikan oleh perawat saat pasien muntah-muntah,” tutur Y, mengutip keterangan yang diperoleh keluarga.

Ia juga menyebut perawat tersebut meninggalkan pasien ketika muntah-muntah masih berlangsung. Tidak lama kemudian, kondisi Firman dikabarkan semakin memburuk.

Y mengatakan, bibi pasien sempat memanggil perawat untuk memberitahukan bahwa Firman mengalami kejang dan mengeluarkan busa dari mulut serta hidungnya. Namun, menurut keterangan keluarga, panggilan tersebut tidak segera mendapat respons yang mereka harapkan.

Keluarga kemudian mendapati kondisi pasien semakin kritis. Y menuturkan, wajah dan bibir Firman terlihat menghitam, sementara busa yang keluar dari hidungnya disebut memiliki warna berbeda.

“Busa yang keluar dari hidung kanan berwarna merah dan yang kiri hitam. Muka dan bibirnya menghitam, matanya melotot dan kejang lalu meninggal sekitar pukul 06.00 WIB,” ungkap Y.