NEWS MANCA, DIMADURA - Jika Paramaos kebetulan berkunjung ke stasiun kereta bawah tanah di Kota Seoul, Korea Selatan, ada satu pemandangan yang mungkin menarik perhatian—terutama bagi warga Indonesia. Sebuah puisi legendaris karya sastrawan besar tanah air, Chairil Anwar, "Aku", kini terpampang di Stasiun Yeouido dan Stasiun Gangnam, berdampingan dengan puisi dari 26 negara lainnya.

Puisi berjudul Aku itu menjadi bagian dari Program Puisi Multinasional yang digagas oleh Pemerintah Kota Seoul sejak 2008. Program ini menghadirkan puisi dari berbagai negara, termasuk Indonesia, sebagai bentuk pertukaran budaya.

Selain Indonesia, sebanyak 26 negara lainnya turut serta, seperti Inggris, Vietnam, hingga Mongolia. Kehadiran puisi Aku di ruang publik Seoul ini bukan sekadar estetika, tetapi juga membawa makna mendalam tentang identitas, perjuangan, dan kebebasan.

Kuasa Usaha Ad-interim (KUAI) Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) Seoul, Zelda Wulan Kartika, menyebut pemajangan puisi Aku merupakan hasil kolaborasi antara Pemerintah Kota Seoul dan KBRI.

"Oleh karena itu, kami ingin memperkenalkan bahasa Indonesia melalui puisi kepada masyarakat Korea. Ide inovatif ini sejalan dengan misi kami untuk memperkuat hubungan bilateral, khususnya dalam mempromosikan pertukaran budaya antara Indonesia dan Korea," kata Zelda dalam tayangan YouTube Arirang TV We Are Diplomats, sebagaimana dilansir detikEdu (8/3) dan dikutip dimadura.id, Minggu 9 Maret 2025.

Puisi "Aku" dalam Dua Versi Bahasa

Puisi Aku ditampilkan dalam dua bahasa, yakni bahasa Indonesia dan bahasa Korea. Lokasinya berada di Stasiun Yeouido Jalur 5 Peron 8-2 dan 8-3, serta Stasiun Gangnam Jalur 2 Peron 3-3 dan 3-4.

Saat ditanya alasan pemilihan puisi Aku, Zelda menyebut bahwa karya Chairil Anwar itu memiliki semangat besar dan menegaskan identitas seseorang dalam menghadapi tantangan hidup.

"Aku adalah sebuah deklarasi yang kuat akan jati diri, perlawanan, dan ketahanan. Puisi ini mewujudkan semangat mengejar kebebasan individu serta membangun tekad untuk hidup secara autentik," katanya.

Lebih lanjut, Zelda menegaskan bahwa Chairil Anwar adalah tokoh besar dalam sejarah sastra dan perjuangan Indonesia.