Oleh; Tadjul Arifien R- Sejarawan Madura

SEJARAH -
dimadura.id -
Sejarah Jawa abad ke-17 diwarnai pergolakan besar. Di baliknya ada nama
Pangeran Trunojoyo, bangsawan
Madura yang berani melawan kekuasaan tiran Susuhunan
Amangkurat I dan menolak tunduk pada
Belanda.
Perlawanan ini bukan sekadar soal tahta melainkan jeritan rakyat yang tertindas.
Raden Trunojoyo mengobarkan revolusi karena melihat penderitaan rakyat Mataram baik di Jawa maupun
Madura.
Rakyat hidup dalam kesengsaraan, kelaparan, pencurian, perampokan, dekadensi moral hingga pemerkosaan.
Semua itu merupakan dampak dari pemerintahan Susuhunan
Amangkurat I yang dikenal dzalim, otoriter, dan sewenang-wenang.
Kekejaman
Amangkurat I tercatat dalam berbagai peristiwa kelam, di antaranya:
* Pemberontakan Pangeran Alit, adiknya sendiri.
* Pembantaian sekitar 6.000 ulama, keluarga, dan santri mereka.
* Gugurnya Cakraningrat I akibat politik licik sang Susuhunan.
* Gugurnya Mlayakusuma karena kebrutalan istana.
* Tragedi cinta segitiga, di mana menantunya dipaksa bunuh oleh suaminya, yang juga anak Amangkurat.
* Gugurnya Pangeran Pekik, pamannya sendiri, karena selirnya direbut oleh sang putra.
* Tragedi Ratu Malang yang membantai 42 selir istana karena dituduh meracuni selir kesayangan Amangkurat.
Kekejaman itu memunculkan perjanjian rahasia antara Trunojoyo dan Adipati Anom (putra mahkota Mataram) untuk menggulingkan ayahnya
Amangkurat I demi menghentikan penderitaan rakyat yang tak bersalah.
Ketika perang berkecamuk, Komandan Couper dari pihak
Belanda mencoba melakukan diplomasi.
* Pada 26 Oktober 1679, ia mengirim surat kepada Trunojoyo agar menyerah.
* Pada 18 November 1679, ia menerima jawaban dari Trunojoyo.
Namun, balasan itu jauh dari harapan
Belanda. Trunojoyo sama sekali tidak menyinggung soal penyerahan senjata. Sebaliknya, ia menegaskan agar Kompeni tidak ikut campur dalam persoalan orang Jawa.
Dengan kata lain,
Belanda tidak boleh melakukan intervensi dalam urusan dalam negeri.
Trunojoyo bahkan balik bertanya kepada Couper tentang pengertian keadilan menurut norma-norma
Belanda. Ia menegaskan, bila Couper tidak mampu memberi jawaban yang tepat, maka ia (Trunojoyo) akan menghukum Kompeni dengan caranya sendiri.
Jawaban itu membuat Couper kecewa. Surat keduanya pun dikirim kembali dengan desakan agar Trunojoyo menyerah. Namun lagi-lagi, Trunojoyo mengabaikan perihal senjata. Ia justru menegaskan agar
Belanda berlaku jujur.
Menurut Trunojoyo, tidak adil bila Kompeni ikut menghancurkan pasukannya, sebab ia tidak pernah menyatakan perang kepada
Belanda. Apakah Kompeni hanya memberi pertolongan kepada mereka yang banyak berjanji dan banyak memberi?.
Pertanyaan Trunojoyo merujuk pada kontrak 19 – 20 Oktober 1677, ketika Susuhunan Amangkurat II menyerahkan kedaulatan sebagian wilayah Mataram kepada
Belanda sebagai jaminan hutang perang sebesar 310.000 real uang Spanyol. Bahkan, semua pelabuhan kerajaan digadaikan kepada Kompeni.
Selain itu, susuhunan Amangkurat II kepada pihak Kompeni memberikan kedaulatan atas sebagian daerah Kerajaan Mataram yaitu antara Krawang dan Pamanukan.
Atas bagian daerah ini Kompeni mempunyai kedaulatan penuh yang dapat mengadakan peraturan sendiri, menghukum kepada mereka yang melanggar peraturannya.
“Apakah itu yang dinamakan adil?†demikian sindiran Trunojoyo kepada Kompeni.
Ia menegaskan,
Belanda sebaiknya hanya menjadi penonton, bukan ikut mengintervensi.
Surat Couper yang ketiga akhirnya tidak dibalas sama sekali oleh Trunojoyo. Sikap itu menjadi penegas bahwa
Pangeran Trunojoyo tidak pernah berniat menyerah baik kepada Mataram maupun kepada
Belanda.
Revolusi
Pangeran Trunojoyo adalah cermin keberanian seorang bangsawan
Madura yang memilih berpihak pada suara rakyat tertindas.
Ia menolak tunduk pada tirani
Amangkurat I dan dengan tegas menolak pula intervensi
Belanda dalam urusan bangsa Jawa. Meski akhirnya sejarah mencatat Trunojoyo gugur di medan politik dan peperangan, api perlawanan yang ia nyalakan tetap abadi sebagai simbol keberanian dan kehormatan.
Dari
Madura hingga tanah Jawa, namanya dikenang sebagai pejuang yang berani menantang dua kekuatan besar sekaligus yakni, kekuasaan raja yang zalim dan kolonialisme asing.***
Sumber:
- W.L. Olthof, Babad Tanah Jawi, 1941
- Dr. H. J. De Graaf “De opkomst van Raden Trunojoyo.
- Thomas Stamford Raffles, The History of Java, 2014
- Soenarto Hadiwidjojo, Raden Trunojoyo, 1956