“Tidak benar kalau saya mengendalikan semua. Setiap festival punya panitia masing-masing. Saya hanya pegang Madura Kultur dan pameran pembangunan,” katanya kepada media ini, Jumat (12/9).

Ia juga menolak disebut mengutip dana dari pengusaha rokok. Menurutnya, tudingan itu hanya fitnah, bahkan ia menegaskan tidak ada dana yang masuk ke rekening pribadinya.

“Justru paguyuban yang menanggung biaya orkes, panggung, sampai tenda. Tidak ada yang saya makan. Kalau disebut 1 miliar, itu bohong,” ucap Sugeng.

Isu jual-beli stand yang tarifnya disebut mencapai jutaan rupiah juga ikut memanas. Sugeng beralasan bahwa untuk UMKM tarif khusus hanya Rp350 ribu, namun ia tidak menjelaskan detail tarif untuk OPD, camat, BUMD, BUMN, maupun pengusaha swasta.

“Acara itu berlangsung selama 7 hari. Orang hanya lihat nominalnya. Coba kalikan sendiri berapa biayanya. Biaya keamanan saja tiap malam Rp2,5 juta, jadinpengamanan stan, kebersihan, itu besar,” dalihnya.

Sugeng juga menepis anggapan adanya sponsor besar dalam MCF. “Sponsor pun kecil, RSUD hanya Rp500 ribu, SKK Rp2,5 juta, Kangean Energi Rp5 juta,” klaimnya. ***