NEWS SUMENEP,DIMADURA – Dinas Kesehatan Pengendalian Penduduk dan Keluarga Berencana (Dinkes P2KB) Kabupaten Sumenep, Jawa Timur, memastikan Kejadian Luar Biasa (KLB) campak telah berakhir di kabupaten Sumenep.

Seluruh penanganan kasus dinyatakan tuntas sejak Oktober 2025, dan saat ini tidak ditemukan lagi kasus baru.

Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit (P2P) Dinkes P2KB Sumenep, Achmad Syamsuri, mengatakan bahwa pihaknya telah mengajukan Surat Keputusan (SK) pencabutan status KLB campak kepada Bupati Sumenep.

“Secara keseluruhan KLB campak sudah kami tangani dan sudah selesai pada Oktober kemarin. Karena diperlukan SK resmi terkait pemberhentian KLB tersebut, kami sudah mengajukannya kepada Bapak Bupati,” ujar Syamsuri, Senin (15/12/25).

Ia menjelaskan, sebelumnya Dinkes P2KB Sumenep telah mengajukan SK pemberlakuan KLB campak pada Agustus 2025. Selanjutnya, pada November 2025, pengajuan SK pencabutan KLB kembali dilakukan dan saat ini masih dalam proses di bagian hukum untuk ditandatangani oleh Bupati Sumenep.

Menurut Syamsuri, hingga saat ini kondisi kasus campak di Kabupaten Sumenep sudah terkendali sepenuhnya.

“Sampai hari ini sudah zero case, tidak ada lagi kasus campak,” katanya.

Berdasarkan data Dinkes P2KB Sumenep, dia menjelaskan jumlah suspek campak sejak Januari hingga 3 Desember 2024 ssebelum pengajuan SK pencabutan ercatat sebanyak 2.996 kasus.

Dari jumlah tersebut, sebanyak 205 kasus dinyatakan positif campak berdasarkan hasil pemeriksaan laboratorium di Surabaya.

Sementara itu, kasus lainnya merupakan suspek atau dugaan yang mengarah ke campak.

Meski status KLB telah dinyatakan berakhir, Syamsuri menegaskan bahwa upaya pencegahan tetap terus dilakukan, terutama melalui penguatan program imunisasi.

Salah satunya dengan melaksanakan imunisasi kejar bagi sasaran anak yang belum mendapatkan imunisasi lengkap.

“Walaupun KLB sudah berakhir, program imunisasi tetap kami jalankan, khususnya imunisasi kejar bagi anak-anak yang imunisasinya masih bolong atau belum pernah diimunisasi sama sekali,” ujar Syamsuri.

Ia menambahkan, data sasaran imunisasi tersebut telah tersedia di masing-masing puskesmas, sehingga pelaksanaan imunisasi kejar dapat dilakukan secara terarah dan menyeluruh.

Langkah ini dinilai sebagai upaya paling aman untuk mencegah terulangnya kejadian serupa di masa mendatang.

Syamsuri juga menekankan pentingnya dukungan dan peran aktif masyarakat dalam menyukseskan program imunisasi.

“Kami sangat berharap kolaborasi semua pihak, termasuk masyarakat, agar program imunisasi kejar ini dapat berjalan maksimal dan kejadian KLB campak tidak terulang kembali,” kata dia dengan nada optimis.***