Mento dan kaldu kokot dipilih sebagai sajian unggulan untuk memperlihatkan kekayaan cita rasa sekaligus memperkuat identitas kuliner daerah. 

Keterlibatan pelaku usaha kuliner juga membuka ruang bagi pengembangan resep, penyajian, dan promosi yang lebih kreatif.

Melalui kegiatan itu, kuliner tradisional diharapkan tidak berhenti sebagai warisan budaya, tetapi dapat berkembang menjadi produk ekonomi yang memiliki nilai tambah.

Pengembangan kuliner lokal juga berpotensi memperluas peluang usaha bagi UMKM serta mendukung sektor pariwisata melalui pengalaman wisata berbasis makanan khas daerah.

Suasana festival semakin semarak dengan agenda Melodi Kuliner Nusantara, yang menghadirkan persembahan jingle mento dan kaldu kokot.

Perpaduan kuliner dan seni itu menjadi salah satu pendekatan promosi untuk memperkenalkan makanan tradisional melalui medium yang lebih menarik dan mudah diingat. 

Dengan demikian, pengenalan kuliner tidak hanya bertumpu pada cita rasa dan tampilan hidangan, tetapi juga pada pengalaman hiburan yang melibatkan masyarakat.

Puncak festival berlangsung pada 11 Oktober 2026, ditandai dengan penyerahan penghargaan kepada peserta dan pembagian 1.000 porsi mento secara gratis kepada masyarakat.

Pembagian tersebut menjadi salah satu upaya mendekatkan kuliner tradisional kepada masyarakat sekaligus memperluas pengenalan terhadap makanan khas Sumenep.

Sementara itu, penyerahan penghargaan menjadi bentuk apresiasi atas partisipasi dan kreativitas peserta dalam mengangkat kuliner daerah.