1. Sebagai sarana pendidikan politik bagi seluruh masyarakat Indonesia agar menjadi warga negara yang sadar akan hak dan kewajibannya dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara.
  2. Menciptakan iklim yang kondusif bagi persatuan dan kesatuan bangsa Indonesia demi kesejahteraan masyarakat.
  3. Menyerap, menghimpun, dan menyalurkan aspirasi politik masyarakat dalam merumuskan dan menetapkan kebijakan negara.
  4. Memberikan wadah bagi warga negara untuk berpartisipasi dalam politik.
  5. Merekrut dan mengisi jabatan politik melalui mekanisme demokrasi dengan memperhatikan kesetaraan dan keadilan gender.

Apakah kelima fungsi tersebut masih relevan dan dijalankan dengan benar dalam konteks calon tunggal hari ini? Sangat diragukan. Yang paling jelas terlihat adalah fungsi ketiga—menyerap, menghimpun, dan menyalurkan aspirasi politik—telah sepenuhnya diabaikan.

Jika pada tahun 1998 kita berjuang melawan KKN (Korupsi, Kolusi, Nepotisme), hari ini kita menghadapi tantangan baru: melawan politik busuk dengan calon tunggal. Sudah seharusnya kita menguji calon tunggal ini di mimbar demokrasi untuk melihat gagasan dan capaian yang mereka tawarkan. Apakah Sumenep layak dipimpin oleh seorang calon tunggal?

Sumpah Mahasiswa, setidaknya menjadi magnet bagi kita untuk terus menyuarakan perlawanan terhadap pelemahan demokrasi.

"

Harapan kepada partai politik yang seharusnya mencetak kader militan semakin sirna. Saatnya kita berkampanye agar partai-partai yang tidak pro-demokrasi tidak lagi memiliki kursi di parlemen Sumenep.

"

Hanya dengan cara inilah rakyat dapat menunjukkan dan mengajarkan arti kebebasan yang sesungguhnya kepada elite partai.

Jika di era Soeharto muncul gerakan Golongan Putih (Golput), mungkin kini saatnya kita menggaungkan gerakan Golongan Kotak Kosong (Gosong); sebuah gerakan politik akar rumput yang benar-benar digerakkan oleh rakyat dan tokoh masyarakat untuk memberikan pelajaran politik kepada para elite partai yang mengabaikan aspirasi rakyat. Biarkan kali ini, rakyat yang memberikan pelajaran kepada elite partai.***