2. Blângkon Tongkosan
[caption id="attachment_8499" align="aligncenter" width="543"]Blangkon Pangeran Pakunataningrat (Foto: Tadjul Arifien R. for dimadura) Blangkon Pangeran Pakunataningrat (Foto: Tadjul Arifien R. for dimadura)[/caption]

Dipakai oleh pejabat dan kerabat keraton, blangkon ini memiliki ekor kanan dan kiri sepanjang 6 cm.

3. Blângkon Ghântong Rè’-kèrè’
[caption id="attachment_8498" align="aligncenter" width="327"]Blangkon Panembahan Moh Saleh (Sumber Foto: Tadjul Arifien R. for dimadura) Blangkon Panembahan Moh Saleh (Sumber Foto: Tadjul Arifien R. for dimadura)[/caption]

Digunakan sehari-hari, terutama dengan busana sorjan billabanten. Ekor blangkon ini lebih panjang, sekitar 12 cm, dan memiliki sedikit kemiripan dengan odheng Ponorogo.

Budaya Lokal sebagai Simbol Kepemimpinan

Tadjul mengingatkan bahwa perdebatan tentang blangkon dan odheng seharusnya bukan untuk mempertegas perbedaan, tetapi untuk memahami kekayaan budaya Sumenep.

"Blangkon dan odheng adalah bagian dari identitas kita. Keduanya mencerminkan nilai lokal yang harus dijaga," katanya.

Ia juga mengkritik pemahaman budaya yang dangkal dari para calon pemimpin. Menurutnya, simbol budaya seperti blangkon tidak bisa dianggap hanya sebagai aksesori, tetapi mencerminkan tanggung jawab dan amanah pemakainya.

"Kalau tidak paham maknanya, bagaimana bisa memimpin dengan bijak?" ujarnya.

Harapan untuk Generasi Muda

Sebagai penutup, Tadjul berpesan kepada generasi muda untuk belajar lebih dalam tentang warisan budaya Sumenep. Ia berharap mereka dapat menjaga tradisi ini agar tidak hilang di tengah modernisasi.

"Budaya kita adalah jati diri. Jangan hanya dilihat dari luarnya, tapi pahami nilai di baliknya," tegasnya.

Dalam tanggapan yang disampaikan lewat media ini, Tadjul memberikan perspektif penting bahwa blangkon bukan hanya cerita masa lalu, tetapi simbol tanggung jawab yang relevan untuk masa depan.

"Perdebatan ini menjadi pengingat akan pentingnya memahami budaya lokal sebelum mengklaimnya," pungkas Tadjul Arifien R.***