Antusiasme para pelajar begitu tinggi. Mereka tampak menyimak dengan penuh perhatian dan tak ragu bertanya soal sejarah lokal yang jarang mereka temui di buku pelajaran.
[caption id="attachment_14015" align="aligncenter" width="680"]
ANTUSIAS: Siswa-siswi SMU 3 Muhammadiyah Arjasa Bersama-sama Menyanyikan Lagu Kebangsaan Indonesia Raya Sebelum Sesi Materi (Foto: Doc. Dimadura)[/caption]
Beragam gaya penyampaian dilakukan untuk menyesuaikan suasana sekolah masing-masing. Di beberapa sekolah, suasana sosialisasi berlangsung formal di ruang aula, lengkap dengan dekorasi dan perangkat proyektor.
Sementara di tempat lain, kegiatan berlangsung lebih santai namun tetap khidmat, seperti di pelataran sekolah dengan latar panggung sederhana dan kipas angin besar.
[caption id="attachment_14018" align="aligncenter" width="680"]“Dengan turun langsung ke sekolah, kami ingin membangun koneksi emosional siswa terhadap museum. Museum bukan tempat asing. Itu bagian dari rumah sejarah mereka sendiri,†tambahnya.
Kolase Potret Program Edukatif Disbudporapar Sumenep bertajuk Sosialisasi Museum Tahun 2025 (Doc. Dimadura)[/caption]
Ia juga berharap agar para guru turut berperan aktif menanamkan nilai budaya dan sejarah kepada siswa melalui kunjungan museum, diskusi budaya, atau integrasi dalam mata pelajaran.
Program ini akan terus dikembangkan agar lebih banyak sekolah bisa dijangkau, terutama di pelosok kepulauan. Disbudporapar juga tengah menyiapkan program kunjungan langsung ke Museum Keraton Sumenep bagi pelajar, agar mereka dapat mengalami sendiri kekayaan sejarah yang selama ini hanya dikenal lewat buku.
"Melalui upaya ini, Disbudporapar Sumenep ingin memastikan bahwa warisan sejarah bukan sekadar peninggalan, tapi sumber inspirasi dan identitas yang tumbuh bersama generasi muda," jelas Kadis Mohamad Iksan menutup keterangan.***

