Begitulah sejarah bangsa kita yang harus dipahami, pilah-pilah, inspirasi dan sebagai navigasi kita berjalan, berkarya, dan melangsungkan kehidupan di atas serpihan tanah surga yang jatuh ini.
Tidak perlu kembali kepada kebangkitan Majapahit, karena sekarang sudah ada di depan kita sekarang, saat ini, sebagai Indonesia yang kita sebut rumah. Tinggal ditingkatkan taraf eksekusinya saja, dimulai dari hal-hal kecil; kedepankan cinta kasih, toleransi, gotong royong, dan terbuka pada setiap hal baru, untuk menatap masa depan yang lebih selaras. Dengan tidak berkiblat pada ajaran gurun pasir yang tidak beradab.
Jayalah Nusantaraku!
___ ___ ___
Referensi:
- Prasati Kudadu
- Prasasti Mula Malurung
- Kakawin Sutasoma
- Kakawin Desawarnana Nagarakrtagama
- Serat Pararaton
- Risalah Sidang BPUPKI, dll sebagainya.
*) Tadjul Arifien R, Seorang budayawan yang lahir di Sumenep, tanggal 6 Juni 1952. Aktif berorgansisasi. Sejak tahun 1965, ia bergabung di KAPPI Kabupaten Sumenep. Selanjutnya ia sering bertualang dari organisasi satu ke organisasi lain seperti GSNI, IPNU, dan lain sebagainya. Pada tahun 1996 mendirikan LSM INSANI yang bergerak dibidang Hukum, Pendidikan, Kesehatan dan Lingkungan Hidup.
Berkenalan dengan dunia tulis menulis sejak tahun 1975, diawali dengan penulisan Silisilah Sentananatapraja Panatagama ing Jawi Dwipantara.
Putra Sumenep asli yang tidak pernah menginjak dunia perguruan tinggi ini merupakan pemerhati sejarah dan budaya. Sejumlah buku yang ditulisnya dan sudah terbit diantaranya adalah sebagai berikut:
Dinasti Rakyan Sanjaya (1996), Biography & Silsilah KH. Zainal Arifin (1996), Silsilah Kiai Aryo Suroadimenggolo Semarang (1997), Adipati Arya Wiraraja dalam Sejarah Pemerintahan Kabupaten Sumenep (2002), Sang Adipati Arya Wiraraja (2007), Biografie KH Hasyim Ali (2008), Pengembangan Industri Ukir-ukiran Karduluk/Penelitian (2009), Sumenep dalam Lintasan Sejarah (2012), Astatinggi (2013), Langgang Arsitektur Tradisional Sumenep (2017), Rokat Paná¸hâbâ (2018), Arya Wiraraja, Tongghâk Ngadhegghâ Nagharâ Majhâpaèt (2018), Keris Sumenep (2019, Perjuangan Rakyat Sumenep 1945-1950 (2022), MAHABHARATA, Akulturasi Epos India ke Nusantara, dari Hindu ke Islam (2022), SUMENEP, dalam bingkai adat Keraton (2022), dan Kajian Situs Historis & Mitologi DINASTI ARYA WIRARAJA, Menuju puncak kejayaan Majapahit (2022), dan banyak lagi karya tulisnya yang dimuat di media, berupa opini, catatan sejarah, budaya dan lain sebagainya.
Di masa mudanya, Tadjul Arifien R sering bergabung dengan kesenian Wayang Orang, Ketoprak Madura dan Lodruk, dimana dalam beberapa kesempatan, ia dipercaya sebagai sutradara. Sering menjadi pembicara atau narasumber materi sejarah, budaya dan sastra Madura, baik  skala  lokal, regional, nasional  maupun internasional. Setumpuk sertifikat serta penghargaan telah diterimanya, baik di tingkat lokal, provinsi, nasional maupun level internasional.

