Mereka lebih horor dari hantu mana pun, karena bisa nyulap main game jadi kegiatan haram, dan tahu semua trik sembunyiin tab incognito.

Kalau Bi-ibi itu hantu fiktif, Bu-ibu adalah kenyataan. Dan yang lebih seram, Bu-ibu bisa muncul kapan aja. Lagi push rank? Tiba-tiba pintu dibuka: “Kamu belum nyapu ya?” Lagi scrolling TikTok? “Udah belajar belum?” Nggak ada escape room buat ini, Gaes.

Tapi jujur ya, walau suka bikin deg-degan, Bu-ibu juga penyelamat kita. Mereka itu semacam versi upgrade dari Bi-ibi, tapi dengan sentuhan parenting zaman now. Dulu anak disuruh pulang karena takut diculik hantu bambu, sekarang disuruh berhenti mantengin layar biar nggak diculik algoritma.

Dan hey, Sobat Auto Mager, coba pikir: mungkin Bi-ibi itu cuma simbol. Simbol dari rasa waswas orang tua kalau anak-anaknya terlalu jauh dari rumah, dari nilai, dari realita. Dulu pakai horor bambu, sekarang pakai ancaman cabut Wi-Fi. Beda zaman, beda cara.

Bapak Bu-ibu

Lanjut ya, Gaes! Hahaha… baca subjudul di atas, penulis kok jadi ketawa sendiri duluan ya… hahaha… mari lanjut!

Jujur! Setiap kali dengar istilah “bu-ibu”, yang langsung terbayang bukan cuma emak-emak rempong yang, sekali bicara, bisa menggetarkan seluruh ekosistem rumah tangga. Anak-anak, bahkan bapaknya anak, bisa langsung mendadak kalem alias diam tak berkutik. Haha..

Ya, para “bapak bu-ibu”! Golongan ini kadang berlagak garang di luar, tapi di rumah... suara istri sedikit naik, langsung ingat Tuhan. Itulah kenapa istilah "suami-suami takut istri" itu bukan mitos, tapi realitas sosial yang diamini seluruh bapak-bapak se-Indonesia, meski dalam hati.

Iya, kamu nggak salah baca. Bapak-bapak sekarang pun ikut kena getahnya. Kalau dulu ada istilah suami-suami takut mertua, zaman now ganti jadi suami-suami takut istri. Bukan karena istri galak, tapi karena bu-ibu itu multitasking: bisa masak, kerja, rapat Zoom, nyuapin anak, sambil nyusun rencana reformasi rumah tangga.

Sementara bapak-bapaknya? Masih scroll marketplace, milih stang motor sambil bilang, “Loh, anak kita udah kelas berapa, ya?”

Lihat aja, pas anak nggak pulang-pulang, siapa yang keliling kampung nyari? Bu-ibu. Pas nilai raport jeblok, siapa yang langsung meeting sama guru BK? Bu-ibu. Bapak-bapak biasanya ngangguk dari kejauhan, sok serius, tapi sambil cek saldo e-wallet. Dalam rumah, mereka kadang lebih kayak ornament: ada tapi nggak selalu terasa. Duh, maaf ya Pak, ini cuma satir sayang.