Permintaannya dituruti oleh Belanda. Dini hari, dikala beliau sedang khusyu’ dalam shalatnya, lalu letusan peluru senapan serdadu Belanda menerjangnya.

Seketika itu tubuh beliau tersungkur dalam posisi sujud, beliau menghadap ke Hadirat Dzat Yang Maha Kuasa dalam keadaan sahid.

Suasana di pondok pesantren sekitar waktu Shalat ‘Isya mendengar letupan senjata beberapa kali (ada yang mengatakan tiga kali).

Tapi semua pejuang dan para santri masih belum berprasangka apapun, karena mereka mengira bahwa letupan itu adalah sebagai tembakan peringatan saja.

Pada pukul 03.00 WIB (dini hari) terdengar berita yang tidak disangka-sangka dan begitu mengejutkannya.

Dikabarkan bahwa ada sesosok tubuh manusia yang tergeletak tak bernyawa di lapangan Kemisan.

Baca Juga:Hida Olsop

Demi mendengar berita itu, semua santri/pengikutnya merasa penasaran dan khawatir.

Mereka dihantui oleh prasangka buruk dan rasa takut serta curiga karena K. Abdullah Sajjad tidak kembali lagi ke tengah mereka sejak bersama Belanda.

Tak ada seorangpun yang berani mendekat ke lapangan, karena tentara Cakra dan Belanda dalam keadaan siaga penuh.

Pada akhirnya, ada seorang santri yang juga sahabat dan tetangganya memberanikan diri untuk melihat keberadaan sosok tak bernyawa tersebut.