4/ Amat kecil sekali, sebatas ruang, sebatas melihat aktor yang lupa bawa kepalanya pun penonton alpa cara bertepuk tangan.
(membaca sebagian kecil tentang tonel)
AMSAL LUKA
1/ Mestinya tak ada tangisan sebab sedu sedan milik hujan; kakimu terus menjadi kompas
Mestinya tidak ada lagi lagu sebab rima gema milik gerimis tangis tak ada yang menentu
Sesaat kamu berpikir berapa sakit di sekujur tubuh, hitam akan menua: peta berbaring dan meminta langit
2/ Kamu pun bertanya pada kenyataan betapa seramnya sebuah tikaman berapa perih seluruh irisan sunyi
Tapi, kamu percaya tuhan masih ada untuk sekadar berbagi cerita malam; menunjuk bintang tuk mengirimmu
Kepada goa yang berisi kekosongan; kamu tak rela berbagi kepada siapapun pun pada bayang sendiri enggan berbagi.
*) Fendi Kachonk | Lahir dan tinggal di Desa Moncek, Kecamatan Lenteng, Sumenep. Aktif berkegiatan di dunia sastra lewat Komunitas Kampoeng Jerami (KKJ) dan Forum Belajar Sastra (FBS); dua komunitas yang ia dirikan sendiri. Karya-karyanya berupa esai dan puisi terbit di berbagai media lokal, nasional, hingga antologi bersama seperti Sandal Kumal (2011), Indonesia Titik 13 (2012), Istana Air (2014), Hujan Kampoeng Jerami (2014), Memo Untuk Presiden (2014), Titik Temu (2014), dan Benale Sastra DKJT (2016). Ia juga menulis beberapa buku tunggal, di antaranya Lembah Kupu-kupu (2014), Tanah Silam (2015), dan Surat dari Timur (2016).

