“Maksodda, tèmpo bâá¸Ã¢ rèpot, bâá¸Ã¢ ghâbây, orèng jârèya alalakon ongghuwân, ghâtè, kabbhi èkalako, á¸imma bâá¸Ã¢ kalakowan sè ta' marè, èpatontas ta' lè-tolèyan; ta' ken-rèkennan bân sè laèn.â€
Maksudnya: Saat ada repot (gawe), orang itu kerja beneran, giat, semua dikerjakan, di mana ada pekerjaan yang tak rampung, ia tuntaskan tanpa toleh ke sana-kemari — tidak perhitungan dengan yang lain.
“Acakarbâ†adalah roh gotong royong Madura yang hidup di setiap momentum kebersamaan. Menggambarkan kerja yang tulus: kerja tanpa pamrih; kerja yang dilakukan bukan untuk dipuji, tapi demi menjaga harkat dan martabat keluarga dan tradisi etik masyarakat setempat. Sopan santun, aná¸hep asor.
Di tengah dunia yang makin individualistis, acakarbâ seolah mengingatkan kita, bahwa setiap tangan yang bekerja dengan hati, tersimpan nilai luhur tentang keikhlasan dan persaudaraan.
Di Madura, orang bekerja bukan semata demi menyelesaikan tugas, lebih dari itu, adalah demi menjaga marwah dan kehormatan.
Acakarbâ 😃
Salam sèttong á¸Ã¢râ, Madhurâ!

