NEWS SUMENEP, DIMADURA — Akses utama penghubung aktivitas sosial dan ekonomi warga Pulau Giligenting terputus akibat jembatan ambles di Desa Bringsang, Kecamatan Giligenting, Kabupaten Sumenep. Hingga kini, ketidakpastian jadwal pembangunan membuat warga kian lelah menunggu kejelasan dari pemerintah daerah.
Berbulan-bulan setelah kejadian, belum ada kepastian resmi kapan pembangunan jembatan tersebut akan direalisasikan.
Kondisi itu mendorong munculnya wacana pembangunan secara swadaya oleh masyarakat apabila Pemerintah Kabupaten Sumenep, khususnya Dinas Pekerjaan Umum dan Tata Ruang (PUTR), tak kunjung memberikan kepastian tertulis.
Saat ini, warga hanya mengandalkan jembatan darurat berbahan kayu yang kondisinya terbatas dan hanya dapat dilalui kendaraan roda dua.
Sementara kendaraan roda empat terpaksa memutar melalui jalur alternatif dengan jarak tempuh yang jauh dan tidak efisien.
Alex, warga setempat, menyebut jembatan tersebut merupakan akses vital bagi kehidupan sosial dan ekonomi masyarakat di empat desa di wilayah Pulau Giligenting.
“Kalau terus dibiarkan seperti ini, warga siap patungan membangun sendiri. Ini akses utama. Tidak mungkin kami menunggu tanpa kepastian,†katanya, Minggu (11/1/2026).
Ia juga menyoroti tingginya risiko keselamatan akibat kondisi jembatan darurat, terutama saat air laut pasang. Letak jembatan yang berada di kawasan pesisir membuat badan jembatan kerap tergenang air laut.
“Kalau pas air pasang, air laut sudah sampai ke badan jembatan. Warga yang lewat harus diawasi. Ini sangat berbahaya,†katanya.
Sebelumnya, Dinas PUTR Sumenep menyampaikan bahwa pembangunan jembatan tersebut direncanakan pada tahun 2026 dengan sumber anggaran dari Bantuan Tidak Terduga (BTT). Namun hingga kini, belum ada kepastian terkait waktu pelaksanaan di lapangan.

