NEWS, SUMENEP – Mahasiswa Program Studi Pendidikan Guru Sekolah Dasar (PGSD) semester VI Universitas PGRI Sumenep (UPI Sumenep) berhasil menghadirkan inovasi pembelajaran berbasis budaya lokal yang unik dan inspiratif.
Melalui mata kuliah Pembelajaran Prakarya ini, para mahasiswa sukses menciptakan sebuah mahakarya tradisional berupa keris, senjata khas yang menjadi identitas Kabupaten Sumenep sebagai Kota Keris.
Kegiatan pembelajaran yang berlangsung pada 10–25 Mei 2026 ini menjadi pengalaman akademik berbasis praktik langsung (experiential learning) yang mengajak mahasiswa terjun ke dunia budaya dan keterampilan tradisional secara nyata.
Seluruh mahasiswa Kelas C terlibat aktif dalam proses pembuatan keris secara kolaboratif, mulai dari tahap observasi hingga praktik langsung di lapangan.
Untuk memperdalam pemahaman, mereka melakukan kunjungan ke Desa Palongan, Kecamatan Bluto, Kabupaten Sumenep, salah satu sentra pembuat keris tradisional.
Di lokasi tersebut, mahasiswa belajar langsung di tempat penempaan keris milik Pak Fauzi yang sekaligus menjadi mentor dalam proses pembuatan bilah keris.
Mereka menyaksikan sekaligus mencoba proses penempaan besi yang membutuhkan ketelitian, kekuatan, dan kesabaran tinggi.
Proses kemudian dilanjutkan ke tahap pengukiran dan finishing di kediaman Arjun Supriyanto, mahasiswa UPI Sumenep.
Di lokasi tersebut, mahasiswa secara gotong royong menyelesaikan bagian warangka dan hulu keris hingga menjadi satu kesatuan karya yang utuh dan bernilai seni tinggi.
Hasilnya, tercipta sebuah keris jenis Kamardikan (kreasi baru) dengan pakem Mataram, mengambil dhapur Nogo Pertolo.
Keindahan keris ini semakin menonjol dengan pamor Kulit Semongko serta warangka model Gayaman Solo yang memberikan nilai estetika dan filosofi budaya yang kuat.
Salah satu mahasiswa, Anisyah, mengaku pengalaman tersebut menjadi momen berharga yang tidak akan terlupakan.
“Seru banget, ini pertama kalinya saya dan teman-teman belajar langsung seperti empu. Ternyata proses pembuatan keris itu sangat detail dan butuh kesabaran luar biasa,” ungkapnya.
Hal senada disampaikan Ketua Kelas PGSD Kelas C, Anggita Eka Wulandari, yang mengaku bangga atas kekompakan tim dalam menyelesaikan proyek budaya tersebut.
“Keris ini hasil kerja sama satu kelas. Kami benar-benar belajar dari nol sampai jadi. Awalnya sempat ragu, tapi ternyata bisa selesai dengan hasil yang membanggakan,” tuturnya.
Dosen pengampu Mata Kuliah Pembelajaran Prakarya, Ike Yuli Mestika Dewi, menegaskan bahwa kegiatan ini merupakan bentuk pembelajaran kontekstual yang mengintegrasikan nilai budaya lokal dengan keterampilan abad 21.
Kegiatan ini menjadi bukti bahwa pembelajaran di perguruan tinggi tidak hanya berhenti pada teori, tetapi juga mampu menghasilkan karya nyata yang kreatif, edukatif, dan berakar pada budaya lokal.
Melalui pengalaman ini, mahasiswa PGSD UPI Sumenep diharapkan tidak hanya menjadi calon guru yang kompeten secara akademik, tetapi juga pendidik yang kreatif, berkarakter, serta mampu melestarikan budaya bangsa di masa depan. ***

