Jadi, pada dasarnya manusia memiliki insting untuk bertahan hidup dan mendahulukan keselamatan diri. Namun himpitan masalah yang tidak bisa dia kendalikan justru mengundang reflek alamiah ini.
Saat itulah, kepercayaan akan kesanggupan dirinya menanggung beban menentukan titik akhir. Jika dia yakin tak bisa bertahan maka pikiran dan tubuhnya akan ikut menyerah. Di fase ini, peran agama dan keimanan menjadi penentu.
Menurut KBBI, “Agama adalah suatu ajaran dan sistem yang mengatur tata keimanan/kepercayaan dan peribadatan kepada Tuhan yang Maha Kuasa, serta tata kaidah terkait pergaulan manusia serta lingkungannya.â€
Dari pengertian tersebut dapat dipahami bahwa seseorang yang mengamalkan ajaran agamanya dengan baik, maka emosinya akan lebih stabil dan ‘tahan banting’.
Pemahaman agama ini tidak didapatkan secara instan. Ia harus ditanamkan sedini mungkin, dipupuk dengan keistikamahan dan kesabaran, serta dirawat dengan pembiasaan.
Salat sebagai Solusi
Apa pembiasaan utama yang dapat menjadi pondasi keimanan dan memperkuat jiwa seorang Muslim? Jawabannya adalah salat.
Sebagaimana sebuah hadis yang diriwayatkan oleh Al Baihaqi:
“Salat itu adalah tiang agama (Islam), maka barang siapa mendirikannya sungguh ia telah mendirikan agama (Islam) dan barang siapa yang meninggalkannya, maka sungguh ia telah merobohkan agama (Islam) itu.â€
Salat seperti tali kendali yang bisa menguatkan saat langkah kita goyah dan serasa akan lepas dari pijakan.
Jika kita gambarkan hati kita seperti bangunan, maka salat adalah tiang yang menopangnya. Karena saat salatlah kita bisa meluapkan segala keluh kesah kepada 'Sang Pemberi Ribuan Pintu Kemudahan' di antara ratusan kesulitan.

