Baginya, keberadaan banyak media bisa menjadi keuntungan bagi daerah jika insan pers mampu menyajikan berita yang akurat, faktual, dan terpercaya, bukan sekadar opini.
Tidak hanya kepada wartawan, Ibnu juga menyampaikan pesan kepada pejabat publik dan birokrat agar bersikap terbuka terhadap media.
“Mereka, para wartawan itu, memberikan edukasi luar biasa. Jadi tolong jangan dipersulit,†pesan Ibnu.
Ia menyayangkan jika ada pihak yang menghalangi kerja jurnalistik, khususnya saat melakukan liputan investigatif.
Tak lupa, Ibnu juga meminta masyarakat agar tidak memandang wartawan sebagai momok.
“Nggak! Nggak! Wartawan itu bukan momok. Mereka hadir untuk memberi harapan melalui informasi yang mendidik,†tegasnya.
Dalam konteks era digital saat ini, Ibnu menilai kehadiran media sosial dan media online semestinya bisa mendorong minat baca masyarakat. Namun, ia juga menegaskan bahwa ini menjadi tantangan tersendiri bagi wartawan untuk tetap relevan dan profesional.
Di Hari Pers Sedunia 2025 ini, Ibnu Hajar berharap para jurnalis, khususnya di Sumenep, kembali menguatkan komitmen terhadap nilai-nilai jurnalisme yang luhur—sebagai penjaga kebenaran dan suara publik.
“Sekarang informasi sudah masuk ke ruang-ruang publik yang tersembunyi sekalipun. Jadi tantangannya lebih berat. Tapi justru ini jadi pemacu kita untuk menyuguhkan yang terbaik kepada pembaca,†pungkasnya.***

