"Ta’ ennèng bâḍâ orèng sala caca sakonè’ ka abâ’na napa’ nampèlèng, norkop, nerkem, sanajjân ta’ sabhânḍhing kalabân kasala’anna."

BACA JUGA: 

"Paralon otabâ sellang aèngnga ècapo’ ghenjhâ sapè tatangghâna, nongghul saḍâ’ sè acaroghâ, ka’ḍinto sè èkoca’ adigâng, abâ’na apangrasa dhâddhi bujânggâ." Tulis Ketua Komunitas Abdhi Dhâlem Sumenep, Harwiyanto.

Adigung

Istilah Adigung biasanya diucapkan kepada seseorang yang suka berlagak sombong mengandalkan pangkat atau jabatan. Karena dirinya telah menjadi orang sukses, ia pun tidak lagi bersikap sebagaimana sebelumnya, waktu dimana dirinya dalam keadaan miskin lagi susah cari makan.

Ia lupa bahwa dulu, jika sedang dalam keadaan paceklik, untuk minum pun ia masih memgharap belas kasih sesamanya.

Sekarang dirinya sudah kaya, punya pangkat, jabatan tinggi, lalu ia pun tidak menghargai dan tidak menunjukkan sikap hormat kepada orang lain.

Dirinya merasa telah menjadi orang penting. Di kala mendapati ada orang fakir miskin bertamu ke rumahnya, bahkan ia pun enggan untuk menemuinya. Bisa jadi ia temui tetapi tidak menemani dan melayani tamu itu dengan baik.

Beda jika yang bertamu kepadanya adalah orang penting yang sederajat dengan dirinya. Ia akan meladeni orang tersebut dengan perlakuan yang baik dan sopan; membeda-bedakan orang ini dan orang itu.

Terkadang, saat tetangganya sedang butuh bantuannya, ia bahkan bilang "tidak kenal". Beda jika orang tersebut punya jabatan penting atau selevel dengan dirinya, sekalipun tidak akrab, ia akan mati-matian bilang, "Ya, saya kenal dan tahu banyak tentang dia."

Istilah Adigung biasanya juga diucapkan untuk orang yang congkak atau sombong dengan mengandalkan silsilah keluarga atau keturunan.