Kondisi dimana kita mendapat karunia derajat sebagai orang terhormat, misal karena keturunan darah biru, diri ini seharusnya selalu mawas dan tahu diri; tidak baik memandang orang lain rendah, miskin, bahwa derajat manusia di sisi Allah semua sama; tidak baik membeda-bedakan teman yang ini dan yang itu.

Dapat anugerah cerdas dan pandai adalah kesempatan baik untuk bersyukur. Bukan merasa pintar seorang diri. Sebagaimana petuah sesepuh Madura, "gunung tinggi masih ada yang lebih tinggi".

Jika kita masih mau mengaku sebagai orang Madura, kita harus senantiasa memegang prinsip yang telah diajarkan leluhur, "Ta’ kèngèng adigâng adigung adiguna, sabâb manossa namong dhârma.”

Tidak ada orang Madura sombong, congkak, tamak, suka pamer harta atau jabatan. Tidak ada orang Madura yang suka pamer keilmuan kepada orang lain. Tidak ada.

Jika pun ada, maka identitas orang tersebut perlu dipertanyakan; benarkah dia orang Madura? Jangan-jangan hanya tinggal di Madura tetapi watak dan akhlaknya adalah watak orang asing.

Semoga kita semua tidak termasuk orang yang adigâng adigung adiguna, membuat orang lain gelisah sehingga di mata orang, kita dianggap tidak punya tatakrama, dicap sebagai orang yang angkuh dan egois.

Sekian pembahasan tentang "Adigâng, Adigung, Adiguna". Semoga bermanfaat, mari kita tutup artikel ini dengan pantun bahasa Madura.

Metthèk korma è Banasarè Orèng nganḍung ècopaè Tatakrama konana torè pertè Adigung adigung adiguna torè sènglaè


NB: Artikel ini diterjemahkan secara bebas dari oretan Harwiyanto yang terbit di Majalah Jokotolè Balai Bahasa Jawa Timur edisi 25, (Juli-Desember 2021) dan ditayangkan kembali di blog pribadinya dengan judul "Adigâng Adigung Adiguna"