"Marghâ rèng seppona apangkat, kadhi kalèbun, tentara, polisi, DPR, bupati, gubernur, presiden, otabâ amarghâ rèng seppona bâjingan, asongot pangerrat ajânggu’ cakkong, taḍâ’ rèng bângal ka rèngtowana, lajhu andhâddhiyâghi anggâ’/sombong ka abâ’na. Ta’ kennèng salaè sakonè’ bân kancana, mamadhul ka rèng towana." Tutur lengkap penjelasan Harwiyanto, guru mata pelajaran Mulok Bahasa Madura SMAN II Sumenep.

Adiguna

Terakhir, Adiguna. Sebuah istilah yang lumrah diucapkan kepada seseorang yang sombong atau takabur lantaran kepandaian atau kecerdasannya.

Ia merasa diri paling pintar karena bersekolah di lembaga ternama atau kampus terkenal. Hanya dirinya yang mahatahu, orang lain dianggapnya bodoh sehingga ia pun gampang mencela atau menyalahkan orang lain.

Namun demikian, ketika dirinya diminta untuk melakukan apa yang telah dia cela dan salahkan, dirinya malah mengatakan tidak bisa alias pèra' o-matao ter-mapènter. Padahal dia hanya pintar mengoreksi dan menyalahkan perbuatan atau pekerjaan orang lain.

Jika ada orang atau temannya di sekolah yang tidak selevel dengan keilmuan dan kecerdasannya, maka pun dia enggan untuk berteman; tidak pernah menyapanya; tidak respek sama sekali.

Kenapa orang Madura kok tidak diperkenankan punya sifat Adigâng Adigung Adiguna?

Orang Madura seharusnya tidak mempertahakan karakter moral Adigâng Adigung Adiguna. Sebab manusia memang hanyalah setitik ciptaanNya.

Maksudnya, manusia hanyalah mahluk yang tak punya daya dan upaya. Manusia hanya bisa berusaha, kuasa tetaplah milik Allah, Tuhan seluruh alam semesta.

Kita yang gagah, sehat, kuat dan kokoh, tidak baik jika lalu menganggap orang lain remeh;  ada salah sedikit marah, mau mukul, ingin nempeleng; carok!

Mestinya diri harus senantiasa ingat bagaimana ketika sakit; ingat bahwa kita tidak akan selamanya muda dan kuat; kita akan jompo; bahwa saat ini Allah masih memberi kita nikmat kuat dan sehat.