Guru bukan sekadar pengajar, melainkan juga penjaga nilai. Demikian pula dengan pesantren dan lembaga keagamaan, yang harus menjadi pusat persemaian Islam rahmatan lil alamin, bukan sarang doktrin kebencian.
Pendidikan keluarga juga sangat penting. Orang tua mesti peka terhadap perubahan sikap anak dan melek terhadap bahaya propaganda digital.
Dalam banyak kasus, radikalisme tumbuh karena keluarga abai atau tidak memiliki literasi agama dan digital yang cukup.
Upaya mencabut radikalisme tidak bisa dilakukan oleh satu pihak. Dibutuhkan kolaborasi antara pemerintah, tokoh agama, pendidik, organisasi masyarakat, media, dan masyarakat sipil. Pendekatan yang bersifat partisipatif, inklusif, dan terbuka adalah kunci utama.
Selain itu, pembangunan ekonomi yang merata, pengentasan kemiskinan, dan akses keadilan bagi seluruh lapisan masyarakat juga menjadi faktor penting.
Radikalisme sering tumbuh di tanah yang kering: kemiskinan, ketidakpuasan, dan keterasingan.
Mencabut akar virus radikalisme bukan pekerjaan instan, tapi sebuah perjuangan panjang yang membutuhkan ketekunan, kesabaran, dan sinergi.
Kita semua memiliki peran: menyemai damai di sekolah, di rumah, di masjid, di dunia maya, bahkan dalam obrolan sehari-hari.
Ketika seluruh elemen bangsa bahu-membahu menanam benih toleransi dan menyiramnya dengan kasih sayang, maka Bumi Pertiwi akan tumbuh sebagai taman damai yang rindang bagi semua.
Abdul Warits | Sekretaris Duta Damai Santri Jawa Timur

