Raden Trunajaya mulai dikenal dalam sejarah Jawa ketika ia memimpin pemberontakan besar melawan Kesultanan Mataram pada akhir abad ke-17. Trunajaya merasa tidak puas dengan kepemimpinan Amangkurat I, raja Mataram saat itu, yang dianggap korup dan tidak adil.
Keresahan ini memicu Trunajaya untuk menggalang kekuatan dan melakukan pemberontakan besar yang dikenal sebagai Pemberontakan Trunajaya pada tahun 1674.
Sebelum memulai pemberontakannya, Trunajaya sempat ke Sumenep dan mengangkat R. Bugan Wongsojoyo menjadi Adipati Sumenep dengan gelar Pangeran Yudonegoro. Pangeran Yudonegoro kemudian membantu perjuangan Trunajaya dengan mengirimkan 1.000 pasukan perangnya.
Trunajaya berhasil menguasai beberapa wilayah penting di Jawa, termasuk Keraton Pleret pada tahun 1677. Keberhasilannya ini membuatnya menjadi ancaman serius bagi kekuasaan Mataram. Pemberontakannya berhasil dipadamkan Kerajaan Mataram dengan bantuan VOC (Vereenigde Oost-Indische Compagnie), yang memiliki kepentingan untuk menjaga stabilitas kekuasaan di Jawa.
Mengapa Trunajaya Menyerang Mataram?
Alasan utama Trunajaya menyerang Mataram adalah ketidakpuasannya terhadap pemerintahan Amangkurat I yang dianggap lalim dan tidak adil. Amangkurat I dikenal sebagai penguasa yang otoriter dan sering bertindak sewenang-wenang terhadap rakyatnya. Hal ini menimbulkan banyak perlawanan, salah satunya dari Trunajaya, yang merasa terpanggil untuk memimpin rakyat melawan ketidakadilan tersebut.
Trunajaya awalnya berjuang bersama Amangkurat II untuk melawan Ayahnya, Amangkurat I, yang pro Belanda. Namun, persekutuan ini berubah ketika Trunajaya menikam Amangkurat I. Hal ini memicu kemarahan dan dendam Amangkurat II, yang kemudian berbalik arah dan bekerja sama dengan VOC untuk menangkap Trunajaya.
Lokasi Perlawanan Trunajaya
[caption id="attachment_5475" align="aligncenter" width="800"]
Gambar Ilustrasi Perang antara pasukan Kerajaan Mataram bersama VOC melawan bala tentara yang dipimpin Raden Trunajaya dan Pangeran Yudonegoro (Sumber: Cover buku sejarah karya Soenarto Hadiwidjojo/Tadjul Arifien R. for dimadura.id)[/caption]
Perlawanan Trunajaya tersebar di beberapa wilayah penting di Jawa, terutama di daerah pesisir utara Jawa dan wilayah pusat kekuasaan Mataram. Beberapa pertempuran besar terjadi di Surabaya, Gresik, dan Keraton Pleret. Perlawanan ini menunjukkan kemampuan Trunajaya dalam menggalang kekuatan dan mengorganisir perlawanan yang cukup efektif melawan pasukan Mataram dan VOC.
Akhir Hidup Trunajaya dan Hukuman Mati

