Kesultanan Mataram pada masa itu merupakan kerajaan besar yang menguasai sebagian besar wilayah Jawa. Namun, setelah pemberontakan Trunajaya dan campur tangan VOC, Kesultanan Mataram mulai terpecah menjadi beberapa kerajaan kecil.
Beberapa pecahan dari Kesultanan Mataram yang muncul setelah periode ini antara lain Kesultanan Yogyakarta dan Kasunanan Surakarta. Perpecahan ini menunjukkan betapa besar dampak pemberontakan Trunajaya terhadap stabilitas dan kekuasaan Mataram.
Nama Trunajaya yang Diabadikan
Nama Raden Trunajaya kini diabadikan di berbagai tempat sebagai bentuk penghormatan terhadap jasa-jasanya dalam sejarah Indonesia. Beberapa di antaranya adalah:
1. Nama Jalan: Nama Trunajaya sering dijadikan nama jalan di berbagai kota di Indonesia. Hal ini merupakan bentuk penghormatan terhadap keberaniannya dalam memimpin perlawanan melawan ketidakadilan.
Salah satunya adalah Jalan Trunojoyo dari arah Stopan Sumenep ke selatan, karena jalan tersebut sempat dilewati oleh Pangeran Trunojoyo saat berkunjung ke Sumenep dalam rangka mengangkat R. Bugan Wongsojoyo menjadi Adipati Sumenep dengan gelar Pangeran Yudonegoro.
2. Nama Bandara: Bandara Trunojoyo di Sumenep, Madura, merupakan salah satu bandara yang menggunakan nama Trunojoyo. Bandara ini berfungsi sebagai penghubung penting bagi transportasi udara di wilayah Madura dan sekitarnya.
3. Nama Perguruan Tinggi: Universitas Trunojoyo Madura (UTM) adalah salah satu perguruan tinggi negeri yang terletak di Bangkalan, Madura. Universitas ini diresmikan pada tahun 2001 dan dinamai untuk menghormati Raden Trunajaya.
Penutup
Raden Trunajaya adalah sosok yang penting dalam sejarah Jawa dan Indonesia. Kepemimpinannya dalam pemberontakan melawan Belanda yang kala itu bersukutu dengan Kesultanan Mataram, menunjukkan keberaniannya dalam menghadapi ketidakadilan dan ketidakpuasan terhadap pemerintahan yang korup.

