Abdul Aziz, warga Dusun Tanggulun, Desa Montorna, juga mengonfirmasi bahwa wabah ini masih terus berlangsung. “Benar. Sampai saat ini masih banyak sapi warga mati di daerah kami,” katanya.

Aziz menjelaskan bahwa wabah ini telah merebak selama lebih dari sebulan, dengan rata-rata dua hingga tiga sapi mati setiap harinya.

“Hingga kini berjumlah 30 lebih sapi yang mati,” ujarnya. Aziz juga menyebutkan bahwa sebagian besar sapi mati mendadak tanpa gejala yang jelas. “Ada juga yang demam tidak sampai semalam, besoknya mati,” imbuhnya.

Meluas hingga Kepulauan Raas

Wabah yang awalnya terkonsentrasi di daratan Sumenep kini telah meluas hingga ke wilayah kepulauan. Aril Abdur Rahman, warga Desa Karangnangka, Kepulauan Raas, mengungkapkan bahwa sapi milik keluarganya juga mati mendadak dengan gejala yang serupa.

“Yang saya tahu, juga punya mbak. Gejalanya itu nggak kita ketahui, tiba-tiba kejang, roboh, dan langsung mati. Sebelumnya, jauh hari sebelum sapi punya ibu yang mati, itu ada juga punya tetangga di Desa Kropoh. Kasusnya sama, kejang, roboh, dan mati,” jelas Aril.

Ia menambahkan bahwa kasus serupa pernah terjadi pada kambing di daerahnya tahun lalu, dengan gejala yang hampir sama.

Respon Pemerintah dan Penanganan Terbatas

Kepala DKPP Sumenep, Chainur Rasyid, menyatakan bahwa wabah ini sering terjadi pada musim pancaroba. “Di saat musim pancaroba, selalu ada virus dan penyakit yang hinggap pada sapi. Fenomena ini menurutnya memang biasa terjadi,” katanya, saat dikonfirmasi melalui saluran selulernya, Minggu (5/1) sore.

Ia mengeklaim bahwa DKPP telah melakukan berbagai langkah penanganan, termasuk sosialisasi pencegahan, pengobatan, dan vaksinasi.

“Kami sudah melakukan penindakan, pencegahan, dan sosialisasi. Harapan kami, selain juga pengobatan dan penindakan, diharapkan kepada para pemilik untuk selalu menjaga dan merawat kandang, jaga kebersihan,” paparnya.

Namun, Chainur juga mengakui keterbatasan jumlah tenaga ahli di lapangan. “Kami sudah siaga petugas inseminator di setiap kecamatan. Cuma mohon maaf terbatas, hanya ada 26 orang petugas inseminator yang kami miliki,” jelasnya.