Ia berharap masyarakat segera melaporkan setiap kasus sapi sakit atau mati mendadak. “Segera laporkan ke teman-teman yang siaga di masing-masing kecamatan. Segera koordinasikan,” tegasnya.

Chainur juga mengimbau masyarakat agar tidak panik dan menjual sapi mereka dengan harga murah. “Kami berharap masyarakat untuk tidak panik dan menjual sapinya. Segera laporkan ke kami,” ujarnya.

Namun, penanganan ini belum sepenuhnya memuaskan masyarakat. Sejumlah warga yang enggan disebutkan namanya di sini mengeluhkan bahwa sejauh ini pemerintah hanya memberikan arahan pencegahan tanpa langkah konkret untuk mengobati sapi yang sudah sakit.

Penolakan Vaksinasi di Tingkat Peternak

Di tingkat desa, pemerintah dikabarkan telah berupaya mendorong warga untuk memvaksinasi sapi mereka. Seperti yang disampaikan Sekretaris Desa Montorna, Moh. Huri. Ia mengaku pihaknya telah menawarkan vaksinasi kepada warga yang terdampak.

“Sudah kami tawarkan agar divaksin. Tapi banyak warga yang nggak mau. Kejadian ini mereka anggap sebagai musibah saja,” kata Sekdes Huri.

Ia menyebutkan bahwa kasus sapi mati paling parah terjadi di Dusun Delima dan Dusun Komis. “Bahkan, yang terbaru wabah ini sudah melanda Dusun Tanonggul juga. Vaksin dianggap berbahaya,” tambah dia.

Sekilas Tentang BEF

Penyakit Bovine Ephemeral Fever (BEF) atau demam tiga hari adalah penyakit viral yang ditularkan melalui serangga seperti nyamuk dan lalat. Gejalanya meliputi demam tinggi, kembung, kelumpuhan sementara, hingga kematian mendadak. Penyakit ini sering muncul pada musim pancaroba, ketika kondisi cuaca tidak stabil.

Langkah pencegahan utama meliputi vaksinasi, menjaga kebersihan kandang, dan penyemprotan disinfektan secara rutin. Namun, jika tidak ditangani dengan baik, BEF dapat menyebar dengan cepat dan menyebabkan kerugian ekonomi besar bagi peternak.

Harapan Warga

Para peternak berharap pemerintah lebih serius menangani wabah ini. “Harapan dari masyarakat, pemerintah segera lakukan pengobatan atau langkah-langkah bagaimana sapi yang sakit terkena wabah ini bisa sembuh,” ujar Baihaki.

Dengan wabah yang terus meluas dan jumlah sapi mati yang terus bertambah, langkah cepat dan efektif sangat diperlukan untuk mengatasi situasi ini sebelum semakin banyak peternak yang mengalami kerugian besar.***