Kebiasaan itu membuat kesehariannya ketika mahasiswa tidak jauh dari buku, ruang diskusi dan tulisan. Ia terbiasa membaca sejak pagi. Waktu-waktu tertentu dihabiskan di perpustakaan. Ia juga mendengarkan radio dan mengikuti perkembangan informasi sebelum kembali menulis.
Dari rutinitas semacam itulah kosakata jurnalistiknya dibangun. Ia tidak melihat kemampuan menulis sebagai sesuatu yang datang tiba-tiba. Ada proses panjang yang menyertainya.
“Jadi kosakata yang saya bangun itu ya menulis, dari membaca, berdiskusi dan menulis,” ujarnya.
Tahun 2016 menjadi titik penting. Hendra mulai masuk lebih serius ke dunia jurnalistik. Setahun kemudian ia bergabung dengan Memo Online dan mendapat penugasan di Pamekasan.
Dari sana, pengalaman sebagai wartawan mulai berkembang. Ia belajar menghadapi lapangan, mencari informasi, membangun relasi, sekaligus memahami bahwa menjadi wartawan tidak cukup hanya mampu menulis.
Perjalanan itu kemudian membawanya ke Madura Channel pada 2018. Di tengah perjalanan jurnalistik tersebut, ia sempat bekerja di sebuah toko sepatu selama sekitar satu bulan. Pilihan itu bukan karena ingin meninggalkan dunia jurnalistik. Ia justru ingin memahami bagaimana pemasaran bekerja.
Setelah itu, ia sempat menjadi bagian dari pemasaran sebuah dealer sepeda motor. Target penjualan yang harus dikejar membuatnya belajar hal lain di luar jurnalistik.
Namun pekerjaan tersebut hanya bertahan sekitar satu setengah bulan. Jadwal pemasaran berbenturan dengan aktivitas jurnalistik yang sudah menjadi bagian dari kehidupannya.
Hendra akhirnya kembali memilih jalan yang sejak awal ia sukai. “Saya maunya jadi wartawan yang orang menggaji saya karena tulisan saya,” katanya.
Jatuh Bangun di Sejumlah Media

