Dunia jurnalistik kemudian mempertemukannya dengan berbagai pengalaman. Ketika Madura Channel mengalami persoalan dan akhirnya berhenti beroperasi pada penghujung 2019, Hendra mengaku sempat mengalami keterlambatan pembayaran hingga tiga bulan.
Perjalanan berikutnya mempertemukannya dengan Kompas Madura. Di sana ia mengaku mendapatkan banyak pengalaman dan memiliki akses yang cukup luas untuk menjalankan kerja jurnalistik.
Namun, seperti perjalanan sebelumnya, ia akhirnya memilih melanjutkan langkah ke tempat lain karena persoalan sistem dan dinamika kerja yang tidak lagi sejalan dengan pilihannya.
Ia kemudian bergabung dengan Madura Indepth. Di media tersebut, ia kembali mendapatkan pengalaman baru. Namun perubahan sistem pembayaran pada penghujung 2020 menjadi salah satu alasan Hendra memilih pergi.
Sistem yang sebelumnya memberikan gaji pokok dan insentif berubah menjadi pembayaran berdasarkan berita. Wartawan juga didorong untuk mencari iklan.
Bagi Hendra, perubahan tersebut membuat ruang kerja jurnalistik terasa berbeda.
Betah di Madura Post
Pada akhirnya, tahun 2020 membawanya ke Madura Post. Media itulah yang kemudian menjadi tempat ia bertahan hingga sekarang.
Menariknya, Madura Post tidak menerapkan sistem gaji sebagaimana perusahaan media pada umumnya. Namun justru di situlah Hendra menemukan alasan untuk bertahan.
“Di Madura Post nggak ada sistem gaji. Tapi saya betah karena yang saya sukai adalah sistem kekeluargaannya,” ungkap dia.

