AI dapat membantu wartawan mencari sudut pandang, menyusun kerangka, memperkaya kosakata atau mengolah bahan awal. Tetapi Hendra tidak percaya bahwa seluruh kerja jurnalistik bisa diserahkan kepada mesin.

“Kalau aspek yang berkenaan dengan sifat kasuistik itu tidak bisa kita olah sendiri, karena ada batasan-batasan yang tidak bisa dilampaui oleh AI.”

Persoalannya justru muncul ketika wartawan mulai kehilangan kemauan untuk berpikir dan menulis.

“Perkembangannya apa? Kita malas menulis. Kita hanya menyediakan materi yang akan diolah oleh AI itu sendiri,” tuturnya agak geram.

Kondisi tersebut menurutnya cukup berbahaya. AI memang bisa membantu mempercepat pekerjaan, tetapi manusia, sambung dia, tetap harus memahami apa yang sedang dikerjakan. Apalagi informasi yang dimasukkan ke dalam sistem teknologi juga menyangkut persoalan data.

“Bahayanya adalah semua algoritma di database AI yang kita masukkan materinya itu diketahui oleh pembuat AI. Jadi intelejensinya di AI itu menampung semua apa yang menjadi materi kita, termasuk data pribadi.”

Jurnalis di Tengah Ketidakpastian

Hendra tidak menutup mata terhadap perubahan zaman. Ia pernah menjadi kontributor Metro TV dan TVRI. Namun ia tetap ingin mempertahankan ruang untuk menulis.

Jika suatu ketika pekerjaan tersebut mengharuskannya berhenti menulis dan hanya menjadi bagian permanen dari sebuah institusi, ia mengaku akan mempertimbangkan kembali pilihannya.

Sebab sejak awal, ia tidak mencari profesi yang menawarkan kepastian semata.