“Bagi saya, wartawan itu profesi. Kita boleh berhenti kapan saja, boleh tidak berhenti kapan saja, karena kita tidak ditanggung negara,” katanya.

Ia memahami bahwa menjadi ASN memiliki kepastian yang lebih jelas. Ada jabatan, masa kerja dan masa pensiun. Tetapi konsekuensinya juga ada. Seorang ASN bekerja dalam sistem negara dan terikat sumpah jabatan.

“Bagi saya tolak ukur dari ASN itu adalah jabatan jangka panjang, ada pensiunannya. Tapi mereka tidak bebas. Mereka bekerja untuk negara dan mereka itu tidak boleh mengingkari sumpah jabatannya ketika sudah berada dalam naungan negara.”

Pilih Jalan Berbeda

Ya, Hendra memilih jalan berbeda.

Bukan karena jalan itu lebih mudah. Justru karena di dalam ketidakpastian profesi jurnalistik, ia merasa memiliki ruang untuk menentukan sendiri bagaimana ia bekerja, apa yang ia tulis dan bagaimana ia mempertanggungjawabkan tulisan tersebut.

Hampir sepuluh tahun perjalanan itu telah membawanya melewati berbagai media, berbagai sistem kerja dan berbagai perubahan teknologi.

Dari lembaga pers mahasiswa, media online, televisi, marketing hingga Madura Pos, semuanya menjadi bagian dari perjalanan yang membentuk cara pandangnya.

Pada akhirnya, Hendra tetap kembali kepada sesuatu yang paling sederhana: MENULIS.

Ia percaya wartawan tidak harus menjadi orang yang paling tua di ruang redaksi. Tidak harus pula menjadi orang yang paling lama memegang kartu pers. Yang penting adalah terus belajar, menjaga integritas dan membuat tulisan yang memiliki arti bagi pembaca.