MENJADI ASN mungkin menawarkan kepastian. Ada jabatan, gaji, hingga masa pensiun. Tapi baginya, hidup sebagai jurnalis justru menawarkan sesuatu yang tidak ia temukan di sana: KEBEBASAN.
“Di rumah jurnalis ini, saya menemukan sesuatu yang tidak ada dalam posisi mereka yang jadi ASN. Kalau mereka terikat dengan aturan, kami terikat dengan aturan, tapi kami yang mengatur sendiri aturan itu. Bedanya itu,” tuturnya kepada jurnalis dimadura.id saat diwawancara sambil ngopi di Brobaks Cafe, Kamis (3/9/2026).
Pilihan itu bukan datang tanpa konsekuensi. Hampir satu dekade berada di dunia jurnalistik, Hendra pernah berpindah dari satu media ke media lain. Menjadi wartawan televisi, kontributor media online, bahkan sempat bekerja sebagai marketing penjualan sepeda motor.
Namun satu hal tidak pernah benar-benar ia tinggalkan: MENULIS.
Bagi Hendra, menulis bukan sekadar pekerjaan. Ia sudah jatuh cinta pada aktivitas itu sejak masih menjadi mahasiswa. Dari membaca, berdiskusi, menulis artikel, aktif di lembaga pers mahasiswa, hingga akhirnya menjadikan jurnalistik sebagai jalan hidup.
Miftahol Hendra Efendi, akrab dipanggil Hendra, lahir di Sumenep, 1 September 1995. Ketertarikannya pada dunia tulis-menulis tumbuh ketika masih duduk di bangku kuliah STKIP PGRI Sumenep, yang kini menjadi Universitas PGRI Sumenep. Saat itu, aktivitas membaca, berdiskusi dan menulis perlahan membentuk kebiasaannya.
“Waktu itu, menulis bagi saya memang tidak hanya persoalan kita bekerja, tapi karena mungkin otak saya itu memang didesain untuk suka menulis. Jadi saya menulis itu adalah sebuah hobi. Tidak hanya berita, semuanya dalam bentuk apa pun saya tulis,” katanya.
Menulis Adalah Jalan Hidup
Kebiasaan itu membuat kesehariannya ketika mahasiswa tidak jauh dari buku, ruang diskusi dan tulisan. Ia terbiasa membaca sejak pagi. Waktu-waktu tertentu dihabiskan di perpustakaan. Ia juga mendengarkan radio dan mengikuti perkembangan informasi sebelum kembali menulis.
Dari rutinitas semacam itulah kosakata jurnalistiknya dibangun. Ia tidak melihat kemampuan menulis sebagai sesuatu yang datang tiba-tiba. Ada proses panjang yang menyertainya.
“Jadi kosakata yang saya bangun itu ya menulis, dari membaca, berdiskusi dan menulis,” ujarnya.
Tahun 2016 menjadi titik penting. Hendra mulai masuk lebih serius ke dunia jurnalistik. Setahun kemudian ia bergabung dengan Memo Online dan mendapat penugasan di Pamekasan.
Dari sana, pengalaman sebagai wartawan mulai berkembang. Ia belajar menghadapi lapangan, mencari informasi, membangun relasi, sekaligus memahami bahwa menjadi wartawan tidak cukup hanya mampu menulis.
Perjalanan itu kemudian membawanya ke Madura Channel pada 2018. Di tengah perjalanan jurnalistik tersebut, ia sempat bekerja di sebuah toko sepatu selama sekitar satu bulan. Pilihan itu bukan karena ingin meninggalkan dunia jurnalistik. Ia justru ingin memahami bagaimana pemasaran bekerja.
Setelah itu, ia sempat menjadi bagian dari pemasaran sebuah dealer sepeda motor. Target penjualan yang harus dikejar membuatnya belajar hal lain di luar jurnalistik.
Namun pekerjaan tersebut hanya bertahan sekitar satu setengah bulan. Jadwal pemasaran berbenturan dengan aktivitas jurnalistik yang sudah menjadi bagian dari kehidupannya.
Hendra akhirnya kembali memilih jalan yang sejak awal ia sukai. “Saya maunya jadi wartawan yang orang menggaji saya karena tulisan saya,” katanya.
Jatuh Bangun di Sejumlah Media
Dunia jurnalistik kemudian mempertemukannya dengan berbagai pengalaman. Ketika Madura Channel mengalami persoalan dan akhirnya berhenti beroperasi pada penghujung 2019, Hendra mengaku sempat mengalami keterlambatan pembayaran hingga tiga bulan.
Perjalanan berikutnya mempertemukannya dengan Kompas Madura. Di sana ia mengaku mendapatkan banyak pengalaman dan memiliki akses yang cukup luas untuk menjalankan kerja jurnalistik.
Namun, seperti perjalanan sebelumnya, ia akhirnya memilih melanjutkan langkah ke tempat lain karena persoalan sistem dan dinamika kerja yang tidak lagi sejalan dengan pilihannya.
Ia kemudian bergabung dengan Madura Indepth. Di media tersebut, ia kembali mendapatkan pengalaman baru. Namun perubahan sistem pembayaran pada penghujung 2020 menjadi salah satu alasan Hendra memilih pergi.
Sistem yang sebelumnya memberikan gaji pokok dan insentif berubah menjadi pembayaran berdasarkan berita. Wartawan juga didorong untuk mencari iklan.
Bagi Hendra, perubahan tersebut membuat ruang kerja jurnalistik terasa berbeda.
Betah di Madura Post
Pada akhirnya, tahun 2020 membawanya ke Madura Post. Media itulah yang kemudian menjadi tempat ia bertahan hingga sekarang.
Menariknya, Madura Post tidak menerapkan sistem gaji sebagaimana perusahaan media pada umumnya. Namun justru di situlah Hendra menemukan alasan untuk bertahan.
“Di Madura Post nggak ada sistem gaji. Tapi saya betah karena yang saya sukai adalah sistem kekeluargaannya,” ungkap dia.
Ia menyebut Madura Post sebagai rumah. Tempat bekerja tidak semata-mata diukur dari berapa besar penghasilan yang diterima.
Ada hubungan antarmanusia, kenyamanan berdiskusi dan kebebasan menjalankan profesi yang menurutnya jauh lebih penting.
“Jadi rumah bagi saya itu Madura Post,” katanya.
Tak Ada Jurnalis Senior dan Junior
Selama bertahun-tahun berada di lapangan, Hendra juga menemukan persoalan lain yang menurutnya masih melekat dalam dunia jurnalistik. Salah satunya budaya senioritas.
Ia tidak sepakat jika pengalaman atau lamanya seseorang berada di dunia jurnalistik kemudian dijadikan alasan untuk menempatkan wartawan lain sebagai kelas yang lebih rendah.
“Saya punya satu konsistensi dan komitmen bahwa dalam dunia jurnalisme itu tidak ada yang namanya jurnalis senior atau jurnalis junior,” tegasnya.
Menurut Hendra, profesi jurnalistik memiliki ukuran yang berbeda. Kemampuan mencari informasi, melakukan verifikasi, menulis dan mempertanggungjawabkan karya jauh lebih penting daripada latar belakang seseorang.
Ia bahkan kerap menemukan pertanyaan yang menurutnya tidak relevan dengan kualitas seorang wartawan.
“Kamu lulusan mana? Kamu aktif di mana? Kamu mantan aktivis?” adalah beberapa pertanyaan yang pernah ia temui dalam lingkungan jurnalistik.
Bagi Hendra, semua itu tidak semestinya menjadi ukuran utama. Wartawan harus dinilai dari kerja jurnalistiknya.
“Karena di dalam konsep kehidupan saya itu profesi jurnalis tidak ada yang namanya junior dan senior.”
Di lapangan, sebuah tulisan pada akhirnya harus berdiri dengan kekuatan faktanya sendiri.
UKW dan Marwah Profesi
Pandangan Hendra terhadap profesionalisme kemudian bersinggungan dengan Uji Kompetensi Wartawan atau UKW. Ia tidak melihat UKW sebagai kewajiban yang harus dipaksakan kepada setiap orang yang mengaku wartawan.
Namun demikian, ia menilai wartawan yang sadar terhadap pentingnya profesionalisme seharusnya memiliki kemauan untuk meningkatkan kompetensinya.
“UKW itu lebih kepada personal, UKW itu tidak wajib. Tapi untuk menjaga marwah dan profesionalisme kerja-kerja jurnalistik, kita yang sadar akan pentingnya sekolah jurnalis itu, ya harus ikut,” katanya.
Bagi Hendra, belajar tidak berhenti ketika seseorang sudah mendapatkan kartu pers atau bertahun-tahun bekerja di sebuah media.
Dunia jurnalistik terus bergerak. Cara memperoleh informasi berubah. Teknologi berubah. Pola hubungan antara wartawan dengan narasumber juga berubah.
Perubahan itu terasa jelas dibanding masa awal ia menjadi wartawan.
Dulu, wartawan harus mendatangi kantor-kantor pemerintahan, bertemu langsung dengan kepala dinas atau pejabat untuk mendapatkan nomor telepon dan akses informasi.
Kini, sebagian kebutuhan itu dapat diperoleh melalui grup percakapan, kolega, siaran pers atau materi yang dikirimkan secara digital.
Kemudahan tersebut memang mempercepat kerja. Tetapi menurut Hendra, ada sesuatu yang ikut hilang, yakni hubungan personal antara wartawan dan narasumber.
AI dan Jurnalisme di Sumenep
Hendra melihat perubahan teknologi juga membawa persoalan yang lebih besar. Ia menyebut ada dekadensi dalam dunia jurnalisme hari ini.
Kemunduran itu salah satunya terlihat dari cara sebagian wartawan menjalankan kerja jurnalistik yang semakin bergantung pada kemudahan teknologi.
“Ada dekadensi dalam dunia jurnalisme hari ini. Ada kemunduran dalam segi teman-teman itu mengerjakan kerja-kerja jurnalistik,” ujarnya.
Menurutnya, pekerjaan jurnalistik tidak berhenti pada mengambil materi, mengubah judul, lalu menerbitkannya. Ada proses bertemu manusia, memahami konteks, melakukan verifikasi dan menemukan sisi lain dari sebuah peristiwa.
Karena itu, ketika teknologi digital membuat informasi begitu mudah diperoleh, wartawan justru dituntut semakin teliti. Kemudahan seharusnya tidak menghilangkan proses.
Di titik itu, ia melihat kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI) sebagai perkembangan yang tidak mungkin dihindari.
AI dapat membantu wartawan mencari sudut pandang, menyusun kerangka, memperkaya kosakata atau mengolah bahan awal. Tetapi Hendra tidak percaya bahwa seluruh kerja jurnalistik bisa diserahkan kepada mesin.
“Kalau aspek yang berkenaan dengan sifat kasuistik itu tidak bisa kita olah sendiri, karena ada batasan-batasan yang tidak bisa dilampaui oleh AI.”
Persoalannya justru muncul ketika wartawan mulai kehilangan kemauan untuk berpikir dan menulis.
“Perkembangannya apa? Kita malas menulis. Kita hanya menyediakan materi yang akan diolah oleh AI itu sendiri,” tuturnya agak geram.
Kondisi tersebut menurutnya cukup berbahaya. AI memang bisa membantu mempercepat pekerjaan, tetapi manusia, sambung dia, tetap harus memahami apa yang sedang dikerjakan. Apalagi informasi yang dimasukkan ke dalam sistem teknologi juga menyangkut persoalan data.
“Bahayanya adalah semua algoritma di database AI yang kita masukkan materinya itu diketahui oleh pembuat AI. Jadi intelejensinya di AI itu menampung semua apa yang menjadi materi kita, termasuk data pribadi.”
Jurnalis di Tengah Ketidakpastian
Hendra tidak menutup mata terhadap perubahan zaman. Ia pernah menjadi kontributor Metro TV dan TVRI. Namun ia tetap ingin mempertahankan ruang untuk menulis.
Jika suatu ketika pekerjaan tersebut mengharuskannya berhenti menulis dan hanya menjadi bagian permanen dari sebuah institusi, ia mengaku akan mempertimbangkan kembali pilihannya.
Sebab sejak awal, ia tidak mencari profesi yang menawarkan kepastian semata.
“Bagi saya, wartawan itu profesi. Kita boleh berhenti kapan saja, boleh tidak berhenti kapan saja, karena kita tidak ditanggung negara,” katanya.
Ia memahami bahwa menjadi ASN memiliki kepastian yang lebih jelas. Ada jabatan, masa kerja dan masa pensiun. Tetapi konsekuensinya juga ada. Seorang ASN bekerja dalam sistem negara dan terikat sumpah jabatan.
“Bagi saya tolak ukur dari ASN itu adalah jabatan jangka panjang, ada pensiunannya. Tapi mereka tidak bebas. Mereka bekerja untuk negara dan mereka itu tidak boleh mengingkari sumpah jabatannya ketika sudah berada dalam naungan negara.”
Pilih Jalan Berbeda
Ya, Hendra memilih jalan berbeda.
Bukan karena jalan itu lebih mudah. Justru karena di dalam ketidakpastian profesi jurnalistik, ia merasa memiliki ruang untuk menentukan sendiri bagaimana ia bekerja, apa yang ia tulis dan bagaimana ia mempertanggungjawabkan tulisan tersebut.
Hampir sepuluh tahun perjalanan itu telah membawanya melewati berbagai media, berbagai sistem kerja dan berbagai perubahan teknologi.
Dari lembaga pers mahasiswa, media online, televisi, marketing hingga Madura Pos, semuanya menjadi bagian dari perjalanan yang membentuk cara pandangnya.
Pada akhirnya, Hendra tetap kembali kepada sesuatu yang paling sederhana: MENULIS.
Ia percaya wartawan tidak harus menjadi orang yang paling tua di ruang redaksi. Tidak harus pula menjadi orang yang paling lama memegang kartu pers. Yang penting adalah terus belajar, menjaga integritas dan membuat tulisan yang memiliki arti bagi pembaca.
Karena ketika banyak hal berubah, barangkali yang paling perlu dipertahankan seorang jurnalis adalah alasan mengapa ia mulai menulis.
Dan bagi Hendra, jawabannya tetap sama seperti ketika ia pertama kali menemukan dunia itu. “Karena mungkin otak saya memang didesain untuk itu, SUKA NULIS.” ***

